Yuk, Menjelajah Bukit Moko!
Bandung.
Ibukota provinsi Jawa Barat ini memiliki berjuta pesona yang memiliki tempat di
hati para pelancongnya. Semacam memiliki chemistry,
kota ini selalu berhasil ngebujuk gue untuk bertandang di lain kesempatan. Tercatat
pada tanggal 9 Januari 2016, gue pun kembali menyambangi kota yang menyandang
julukan Kota Kembang ini.
Setelah
berburu informasi dan mapping berbagai
spot yang recommended buat dikunjungi, pilihan gue pun jatuh ke Bukit Moko.
Lokasinya terletak di Jl. Padasuka, Cimenyan, Bandung Timur. Karena berencana
untuk menginap di sana, gue dan pasukan pun menyiapkan perbekalan yang memadai.
Dimulai dari nyiapin tenda, logistik, peralatan P3K, juga tak lupa bahan
makanan. Buat kalian yang berencana nge-camp
di sana, pastikan bahwa senter, matras / sleeping bag, kaos kaki, dan jaket tebal tak luput dalam barang
bawaan. Pasalnya, jika malam tiba, keadaan di sana sangat gelap gulita. Hawa
dinginnya pun sukses bikin lo menggigil persis orang meriang.
Gue
dan pasukan berangkat dari Bekasi sekitar pukul 20.15 WIB melalui jalan Tol
Bekasi Timur, kemudian lanjut melewati Tol Padaleunyi. Jalan tol di malam hari
ternyata gak seramah ketika siang. Di beberapa titik kerap dilanda kabut dan
hujan deras. Kondisi jalanan yang gelap, membuat sang pengemudi mesti ekstra
waspada dan harus dalam kondisi prima alias gak ngantuk. Karena suasana gelap,
hal itu berimbas dengan kita gak bisa nikmatin pemandangan. Jadilah gue dan teman-teman
cuma bisa nyanyi gak jelas demi menghibur diri serta saling melontarkan
gurauan. But it was fun!
Jika
lo hendak ke Bukit Moko, sebaiknya berangkat ketika hari masih terang. Soalnya,
lo akan punya lebih banyak waktu buat masang tenda di sore hari, setelah itu
bisa duduk manis sambil ngopi dan nungguin sunset.
Setelah nyaris tiga jam berjibaku dengan jalan tol, akhirnya mobil kami pun
keluar via Tol Pasteur. Dengan
mengandalkan Google Maps, perjalanan kembali dilanjutkan membelah kawasan Dago.
Setelah belok kiri memasuki Jl. Padasuka, trek-nya
terus menanjak dan terdapat banyak tikungan tajam, guys! Be careful and save drive yaa. Pastikan pula kondisi
kendaraan lo dalam keadaan baik dan kepakeman remnya harus dicek sebelum
berangkat. Tidak disarankan kalo bawa mobil jenis sedan yang mungil, karena
kondisi jalannya banyak yang masih berbatu. Jalan ini pun gak bisa dilalui
mobil jenis elf, apalagi bus. Ini dikarenakan jalan masih terlalu sempit. Mobil
yang gue naiki aja kerap minggir-minggir berbaik hati, demi berbagi aspal
ketika berpapasan dengan mobil yang berlawanan arah.
Kebanyakan
yang gue lihat sih, pengunjung yang hendak ke sana rata-rata menaiki sepeda
motor. Tapi yang bawa mobil juga terbilang gak sedikit. Karena gak sempet
mampir ke rest area ketika berangkat,
akhirnya mobil kami melipir ke sebuah warung di pinggir jalan. Usut punya usut,
si Ibu warung berkata bahwa kami baru mencapai seperempat jalan. Untuk menuju Bukit
Moko, masih harus melewati banyak tanjakan yang bikin merem-melek saking
terjalnya. Gue dan teman-teman pun menyempatkan diri untuk sejenak beristirahat
dan membeli beberapa camilan di warung ini. Just
in case.
Setelah
dirasa cukup, perjalanan kembali diteruskan. Mobil kembali melaju dan bertarung
menembus pekatnya malam demi tujuan utama. Pas ngebuka kaca jendela mobil, amazingly, terhampar pemandangan polusi
cahaya kota Bandung yang bener-bener memukau. Kami pun saling nunjuk-nunjuk ke
luar jendela dengan norak mengarahkan telunjuk ke spot yang paling indah. Maklum, di Bekasi gak ada yang beginian,
hehe. Dari Bukit Moko, kalian dapat meneruskan petualangan hingga mencapai
Puncak Bintang.
| Pemandangan eksotis di sekitar |
Finally,
kami menginjakkan kaki di Puncak Bintang pukul 23.53 WIB, nyaris tengah malam. Sebelum
memasuki pelataran parkir, sang petugas akan menarik retribusi sebesar
Rp10.000,00. Kami pun segera beranjak menuju atas bukit usai memarkir mobil. Untuk
memasuki Puncak Bintang, tiap orang akan dikenakan tarif sebesar Rp12.000,00 di
loket pembayaran. Kondisi di sekitar bukit pada malam hari sangatlah gelap.
Terdapat hutan pinus, toilet, musholla, papan informasi, serta pos jaga.
| Papan informasi di Puncak Bintang |
Segera
setelah menyelesaikan transaksi, kami pun lekas menaiki anak tangga. Ternyata,
di atas sudah terdapat banyak tenda yang didirikan oleh pengunjung yang tiba
lebih awal. Kami pun lantas membangun tenda. Sebelum kami saling memangsa satu
sama lain, demi mengisi perut yang mulai keroncongan, kami pun menyiapkan
peralatan masak dan bahan makanan (padahal cuma kopi, wedang, sama mie instan, hohoho).
Angin
semilir, suasana yang tenang dan damai, jauh dari hiruk-pikuk kebisingan kota,
merupakan perpaduan yang sempurna. Aroma kayu bakar dari api unggun, serta
alunan petikan gitar sukses menambah kesyahduan suasana. Kami pun larut dalam
kebersamaan dan kebahagiaan yang terasa begitu kentara. Hazek~
Fyi, kalau mau pipis
atau melakukan perkara yang berhubungan dengan toilet, lo mesti turun tangga ke
bawah. Gakpapa lah yaa, anggap aja olahraga. Karena mata udah sepet, akhirnya
gue sama Wizi, salah satu rekan gue, tergeletak dengan damai di dalem tenda.
Pukul 4.15 menjelang subuh, kami pun dibangunin sama temen-temen yang standby di luar tenda. “Bangun wey, mau
nunggu sunrise nih di bawah,” ujar
Panji.
Gilaaa,
sumpah, makin menjelang pagi, udara di sini makin berasa dinginnya. Gue dan
Wizi pun beranjak ke luar tenda, sambil merapatkan sweater kami demi menepis udara yang dingin menusuk. Segera kami
pun turun ke pelataran, dan langsung disuguhi pemandangan polusi cahaya kota
Bandung yang memikat. Swear to God, it
was so f*ckin’ amazing! Norak yah gue? Hahaa bodo amat deh.
Para
pengunjung lain yang sedari malam ngariung
di tenda pun perlahan menuju pelataran, demi menikmati suasana dan
mengabadikannya dengan bidikan kamera mereka. Thanks to God, suasana lagi cerah, gak turun kabut maupun ujan.
Soalnya, kata temen gue yang bermukim di Padasuka, polusi cahaya gak akan
keliatan kalo cuaca sedang muram. Suasana romantis pun begitu kentara bagi para
pengunjung yang datang bersama pasangannya, habis.. suasananya mendukung sih.
Kalo yang jomblo macem gue, palingan cuma bisa ngahuleng sambil mepet-mepet ketek temen, hehee.
Sang
surya makin bersemu jingga. Kami pun turun membelah hutan pinus menuju Patahan
Lembang. Jalan yang kami lalui adalah tanah merah yang liat, mungkin ini akibat
guyuran gerimis semalam ketika kami baru tiba. Sunrise yang mengintip di balik rerimbunan pinus sempat gue
abadikan, walaupun jepretannya kurang cihuy karena gue mengandalkan kamera pocket kesayangan.
Sayangnya,
gue dan delapan orang teman yang lain gak sempet menginjakkan kaki di Patahan
Lembang akibat salah jalur, huhu. Tapi, Wizi, Iben dan Ilham berhasil
mencapainya, karena kita berpencar dan mereka bertiga jalan lebih dulu. Dalam
perjalanan yang terasa tak berujung itu, kami pun memilih untuk putar balik.
Untungnya, dalam perjalanan balik, kami semua bertemu dan kembali bersatu, hell yeah, besok-besok jangan mencar
dong, guys!
Tiga
orang yang kampret ini pun memamerkan foto-foto mereka di Patahan Lembang
sebagai bukti, hufth, sombong yaa. Awas aja. Kami pun beristirahat di sebuah
(bahkan satu-satunya) warung kopi yang berdiri di tengah hutan yang menuju
Patahan Lembang. Akibat lapar yang mendera, gorengan, lontong, dan kopi yang
tersedia pun menjadi komoditas berharga bagi kelangsungan hidup kami. Hazek~
dan langsung saja dibantai tuntas sampai tandas.
Setelah
dirasa cukup, kami pun kembali melangkahkan kaki menuju perkemahan. Sebelum
menyusup ke tenda masing-masing, kami menyempatkan diri untuk berfoto-foto ria
di hutan pinus yang oke punya. Pengunjung dalam skala piknik keluarga mulai
berdatangan ketika kami tiba di tenda. Itu sekitar pukul 09.30 pagi. Udah mulai
rame lah intinya. Berdasarkan pengamatan gue, wisatawan yang rata-rata anak
muda atau pecinta alam, biasanya dateng ke sini sekalian berkemah. Jadi, ketika
wisatawan yang lain mulai ramai berdatangan, kita udah khatam duluan
menjelajahi Puncak Bintang, hehe.
Menjelang
waktu makan siang, kami pun beranjak turun berburu makanan. Untungnya, di area
ini sudah terdapat banyak warung dan rumah makan. Jadi kita gak perlu bawa-bawa
tombak atau panah demi berburu sesuatu untuk dimakan, hohooo. Pilihan kami pun
jatuh ke Warung Daweung. Sebuah rumah makan dengan konsep saung lesehan plus
pemandangan aduhai yang mengelilingi sekitarnya.
Makanan
di tempat ini terbilang murah dan ramah di kantong. Jadi lo gak akan keluar
keringet dingin ketika menginjakkan kaki di sini. Kecuali kalo lo gak bawa
uang, hehe. Pengunjung yang datang diwajibkan membeli kupon dengan harga yang
sudah tertera. Kupon ini berguna untuk ditukar dengan paket makanan yang
dikehendaki. Paket termurahnya seharga Rp25.00,00 dan kita udah dapet satu
makanan berat plus dua minuman.
Gue
memilih untuk makan ditemani internet (indomie telur kornet) keju, hot chocolate, dan sebotol air mineral.
Cukup untuk mengisi ulang energi yang terkuras. Jangan kaget kalo elo akan
dihadapkan dengan menu-menu makanan yang menggunakan Bahasa Sunda. Kalo gak
ngerti, tanya aja sama sang Ibu empunya warung atau sama pegawainya yang
berkeliaran di sana. Satu lagi, Warung Daweung ini juga menyediakan fasilitas colokan
untuk nge-charge secara gratis.
Sekali lagi, gratis. Kalo mau nge-charge,
tinggal laporan sama si Ibu pemilik warung.
Setelah cengar-cengir kekenyangan, kami pun memutuskan untuk balik ke atas, bongkar tenda, dan beranjak pulang. Sebenarnya, enggan untuk hengkang dari kedamaian ini. Belum cukup rasanya mejelajah kawasan ini hanya dalam tempo sehari semalam. Namun, kesan mendalam cukup tertoreh di benak gue. Tentang indahnya alam Indonesia. Tentang keagungan mahakarya Sang Pencipta. Tentang kebersamaan. Semuanya. Semoga tulisan gue yang mengulas keelokan bumi Indonesia tak berhenti sampai di Bukit Moko. Let’s go grab your bag, enjoy your journey, and happy travelling guys!
Setelah cengar-cengir kekenyangan, kami pun memutuskan untuk balik ke atas, bongkar tenda, dan beranjak pulang. Sebenarnya, enggan untuk hengkang dari kedamaian ini. Belum cukup rasanya mejelajah kawasan ini hanya dalam tempo sehari semalam. Namun, kesan mendalam cukup tertoreh di benak gue. Tentang indahnya alam Indonesia. Tentang keagungan mahakarya Sang Pencipta. Tentang kebersamaan. Semuanya. Semoga tulisan gue yang mengulas keelokan bumi Indonesia tak berhenti sampai di Bukit Moko. Let’s go grab your bag, enjoy your journey, and happy travelling guys!

