Translate

Entri Populer

20/01/16

Bukit Moko, Menilik Sisi Eksotisme Bandung



Yuk, Menjelajah Bukit Moko!

Bandung. Ibukota provinsi Jawa Barat ini memiliki berjuta pesona yang memiliki tempat di hati para pelancongnya. Semacam memiliki chemistry, kota ini selalu berhasil ngebujuk gue untuk bertandang di lain kesempatan. Tercatat pada tanggal 9 Januari 2016, gue pun kembali menyambangi kota yang menyandang julukan Kota Kembang ini.
Setelah berburu informasi dan mapping berbagai spot yang recommended buat dikunjungi, pilihan gue pun jatuh ke Bukit Moko. Lokasinya terletak di Jl. Padasuka, Cimenyan, Bandung Timur. Karena berencana untuk menginap di sana, gue dan pasukan pun menyiapkan perbekalan yang memadai. Dimulai dari nyiapin tenda, logistik, peralatan P3K, juga tak lupa bahan makanan. Buat kalian yang berencana nge-camp di sana, pastikan bahwa senter, matras / sleeping bag, kaos kaki, dan jaket tebal tak luput dalam barang bawaan. Pasalnya, jika malam tiba, keadaan di sana sangat gelap gulita. Hawa dinginnya pun sukses bikin lo menggigil persis orang meriang.
Gue dan pasukan berangkat dari Bekasi sekitar pukul 20.15 WIB melalui jalan Tol Bekasi Timur, kemudian lanjut melewati Tol Padaleunyi. Jalan tol di malam hari ternyata gak seramah ketika siang. Di beberapa titik kerap dilanda kabut dan hujan deras. Kondisi jalanan yang gelap, membuat sang pengemudi mesti ekstra waspada dan harus dalam kondisi prima alias gak ngantuk. Karena suasana gelap, hal itu berimbas dengan kita gak bisa nikmatin pemandangan. Jadilah gue dan teman-teman cuma bisa nyanyi gak jelas demi menghibur diri serta saling melontarkan gurauan. But it was fun!
Jika lo hendak ke Bukit Moko, sebaiknya berangkat ketika hari masih terang. Soalnya, lo akan punya lebih banyak waktu buat masang tenda di sore hari, setelah itu bisa duduk manis sambil ngopi dan nungguin sunset. Setelah nyaris tiga jam berjibaku dengan jalan tol, akhirnya mobil kami pun keluar via Tol Pasteur. Dengan mengandalkan Google Maps, perjalanan kembali dilanjutkan membelah kawasan Dago. Setelah belok kiri memasuki Jl. Padasuka, trek-nya terus menanjak dan terdapat banyak tikungan tajam, guys! Be careful and save drive yaa. Pastikan pula kondisi kendaraan lo dalam keadaan baik dan kepakeman remnya harus dicek sebelum berangkat. Tidak disarankan kalo bawa mobil jenis sedan yang mungil, karena kondisi jalannya banyak yang masih berbatu. Jalan ini pun gak bisa dilalui mobil jenis elf, apalagi bus. Ini dikarenakan jalan masih terlalu sempit. Mobil yang gue naiki aja kerap minggir-minggir berbaik hati, demi berbagi aspal ketika berpapasan dengan mobil yang berlawanan arah.
Kebanyakan yang gue lihat sih, pengunjung yang hendak ke sana rata-rata menaiki sepeda motor. Tapi yang bawa mobil juga terbilang gak sedikit. Karena gak sempet mampir ke rest area ketika berangkat, akhirnya mobil kami melipir ke sebuah warung di pinggir jalan. Usut punya usut, si Ibu warung berkata bahwa kami baru mencapai seperempat jalan. Untuk menuju Bukit Moko, masih harus melewati banyak tanjakan yang bikin merem-melek saking terjalnya. Gue dan teman-teman pun menyempatkan diri untuk sejenak beristirahat dan membeli beberapa camilan di warung ini. Just in case.
Setelah dirasa cukup, perjalanan kembali diteruskan. Mobil kembali melaju dan bertarung menembus pekatnya malam demi tujuan utama. Pas ngebuka kaca jendela mobil, amazingly, terhampar pemandangan polusi cahaya kota Bandung yang bener-bener memukau. Kami pun saling nunjuk-nunjuk ke luar jendela dengan norak mengarahkan telunjuk ke spot yang paling indah. Maklum, di Bekasi gak ada yang beginian, hehe. Dari Bukit Moko, kalian dapat meneruskan petualangan hingga mencapai Puncak Bintang.
Pemandangan eksotis di sekitar
 Dari ujung titik bukit tertinggi, akan kelihatan benda berbentuk bintang besar yang menyala kelap-kelip. Benda tersebut sebagai penanda bahwa kita telah sampai di Puncak Bintang. “Lihat deh, bintangnya kelap-kelip berubah warna gitu, kayak lampu dugem,” canda salah seorang teman gue.
Finally, kami menginjakkan kaki di Puncak Bintang pukul 23.53 WIB, nyaris tengah malam. Sebelum memasuki pelataran parkir, sang petugas akan menarik retribusi sebesar Rp10.000,00. Kami pun segera beranjak menuju atas bukit usai memarkir mobil. Untuk memasuki Puncak Bintang, tiap orang akan dikenakan tarif sebesar Rp12.000,00 di loket pembayaran. Kondisi di sekitar bukit pada malam hari sangatlah gelap. Terdapat hutan pinus, toilet, musholla, papan informasi, serta pos jaga.

Papan informasi di Puncak Bintang
Segera setelah menyelesaikan transaksi, kami pun lekas menaiki anak tangga. Ternyata, di atas sudah terdapat banyak tenda yang didirikan oleh pengunjung yang tiba lebih awal. Kami pun lantas membangun tenda. Sebelum kami saling memangsa satu sama lain, demi mengisi perut yang mulai keroncongan, kami pun menyiapkan peralatan masak dan bahan makanan (padahal cuma kopi, wedang, sama mie instan, hohoho).
Angin semilir, suasana yang tenang dan damai, jauh dari hiruk-pikuk kebisingan kota, merupakan perpaduan yang sempurna. Aroma kayu bakar dari api unggun, serta alunan petikan gitar sukses menambah kesyahduan suasana. Kami pun larut dalam kebersamaan dan kebahagiaan yang terasa begitu kentara. Hazek~
Fyi, kalau mau pipis atau melakukan perkara yang berhubungan dengan toilet, lo mesti turun tangga ke bawah. Gakpapa lah yaa, anggap aja olahraga. Karena mata udah sepet, akhirnya gue sama Wizi, salah satu rekan gue, tergeletak dengan damai di dalem tenda. Pukul 4.15 menjelang subuh, kami pun dibangunin sama temen-temen yang standby di luar tenda. “Bangun wey, mau nunggu sunrise nih di bawah,” ujar Panji.
Gilaaa, sumpah, makin menjelang pagi, udara di sini makin berasa dinginnya. Gue dan Wizi pun beranjak ke luar tenda, sambil merapatkan sweater kami demi menepis udara yang dingin menusuk. Segera kami pun turun ke pelataran, dan langsung disuguhi pemandangan polusi cahaya kota Bandung yang memikat. Swear to God, it was so f*ckin’ amazing! Norak yah gue? Hahaa bodo amat deh.
Para pengunjung lain yang sedari malam ngariung di tenda pun perlahan menuju pelataran, demi menikmati suasana dan mengabadikannya dengan bidikan kamera mereka. Thanks to God, suasana lagi cerah, gak turun kabut maupun ujan. Soalnya, kata temen gue yang bermukim di Padasuka, polusi cahaya gak akan keliatan kalo cuaca sedang muram. Suasana romantis pun begitu kentara bagi para pengunjung yang datang bersama pasangannya, habis.. suasananya mendukung sih. Kalo yang jomblo macem gue, palingan cuma bisa ngahuleng sambil mepet-mepet ketek temen, hehee.
Sang surya makin bersemu jingga. Kami pun turun membelah hutan pinus menuju Patahan Lembang. Jalan yang kami lalui adalah tanah merah yang liat, mungkin ini akibat guyuran gerimis semalam ketika kami baru tiba. Sunrise yang mengintip di balik rerimbunan pinus sempat gue abadikan, walaupun jepretannya kurang cihuy karena gue mengandalkan kamera pocket kesayangan.
Sayangnya, gue dan delapan orang teman yang lain gak sempet menginjakkan kaki di Patahan Lembang akibat salah jalur, huhu. Tapi, Wizi, Iben dan Ilham berhasil mencapainya, karena kita berpencar dan mereka bertiga jalan lebih dulu. Dalam perjalanan yang terasa tak berujung itu, kami pun memilih untuk putar balik. Untungnya, dalam perjalanan balik, kami semua bertemu dan kembali bersatu, hell yeah, besok-besok jangan mencar dong, guys!
Tiga orang yang kampret ini pun memamerkan foto-foto mereka di Patahan Lembang sebagai bukti, hufth, sombong yaa. Awas aja. Kami pun beristirahat di sebuah (bahkan satu-satunya) warung kopi yang berdiri di tengah hutan yang menuju Patahan Lembang. Akibat lapar yang mendera, gorengan, lontong, dan kopi yang tersedia pun menjadi komoditas berharga bagi kelangsungan hidup kami. Hazek~ dan langsung saja dibantai tuntas sampai tandas.
Setelah dirasa cukup, kami pun kembali melangkahkan kaki menuju perkemahan. Sebelum menyusup ke tenda masing-masing, kami menyempatkan diri untuk berfoto-foto ria di hutan pinus yang oke punya. Pengunjung dalam skala piknik keluarga mulai berdatangan ketika kami tiba di tenda. Itu sekitar pukul 09.30 pagi. Udah mulai rame lah intinya. Berdasarkan pengamatan gue, wisatawan yang rata-rata anak muda atau pecinta alam, biasanya dateng ke sini sekalian berkemah. Jadi, ketika wisatawan yang lain mulai ramai berdatangan, kita udah khatam duluan menjelajahi Puncak Bintang, hehe.

Menjelang waktu makan siang, kami pun beranjak turun berburu makanan. Untungnya, di area ini sudah terdapat banyak warung dan rumah makan. Jadi kita gak perlu bawa-bawa tombak atau panah demi berburu sesuatu untuk dimakan, hohooo. Pilihan kami pun jatuh ke Warung Daweung. Sebuah rumah makan dengan konsep saung lesehan plus pemandangan aduhai yang mengelilingi sekitarnya.
Makanan di tempat ini terbilang murah dan ramah di kantong. Jadi lo gak akan keluar keringet dingin ketika menginjakkan kaki di sini. Kecuali kalo lo gak bawa uang, hehe. Pengunjung yang datang diwajibkan membeli kupon dengan harga yang sudah tertera. Kupon ini berguna untuk ditukar dengan paket makanan yang dikehendaki. Paket termurahnya seharga Rp25.00,00 dan kita udah dapet satu makanan berat plus dua minuman.
Gue memilih untuk makan ditemani internet (indomie telur kornet) keju, hot chocolate, dan sebotol air mineral. Cukup untuk mengisi ulang energi yang terkuras. Jangan kaget kalo elo akan dihadapkan dengan menu-menu makanan yang menggunakan Bahasa Sunda. Kalo gak ngerti, tanya aja sama sang Ibu empunya warung atau sama pegawainya yang berkeliaran di sana. Satu lagi, Warung Daweung ini juga menyediakan fasilitas colokan untuk nge-charge secara gratis. Sekali lagi, gratis. Kalo mau nge-charge, tinggal laporan sama si Ibu pemilik warung. 

Setelah cengar-cengir kekenyangan, kami pun memutuskan untuk balik ke atas, bongkar tenda, dan beranjak pulang. Sebenarnya, enggan untuk hengkang dari kedamaian ini. Belum cukup rasanya mejelajah kawasan ini hanya dalam tempo sehari semalam. Namun, kesan mendalam cukup tertoreh di benak gue. Tentang indahnya alam Indonesia. Tentang keagungan mahakarya Sang Pencipta. Tentang kebersamaan. Semuanya. Semoga tulisan gue yang mengulas keelokan bumi Indonesia tak berhenti sampai di Bukit Moko. Let’s go grab your bag, enjoy your journey, and happy travelling guys!

19/12/15

Tips Memerangi Rasa Malas untuk Mahasiswa Penganut Paham 'Gue-Ngerjainnya-Pas-Deadline-Aja"

"Hmm, masih seminggu lagi kok deadlinenya. Aman laah." Kebanyakan dari kita pasti akan berpikiran seperti itu kalo dapet tugas dari sang dosen. Makin lama tenggat waktu yang diberikan, makin sombonglah kalian ber-hmmm-nya. Udeeeh gausah nyangkal sih, gue juga gitu kok. Tapi guys, hati-hati. Ngulur waktu buat ngerjain tugas itu khan maen daaaah akibatnya. Pengalaman gue pribadi, yang bikin gue senang hati ngerjain tugas pas deadline adalah: gue merasa dapet enlightenment. Rada maksa sih. Entah enlightenment macem apa. Padahal hasilnya selalu sukses bikin gue gak tega buat liat nilainya. Kejadian semacem itu gak boleh dibiarkan berlarut-larut guys. Ntar makin kronis dan susah disembuhin kayak yang gue alamin. Huhu. Berikut beberapa wejangan dari gue buat mengatasi rasa malas kalian (NB: kalo wejangannya gak ampuh, plis gue jangan ditombak) :
  1. Kumpulkan gairah mengerjakan tugas lo setinggi gunung. Terserah lo yaaa mau Gunung Merapi, Gunung Lembu, atau gunung keledai kek. Berdasarkan pengalaman gue, gairah ketika nugas itu penting guys. Gairah jangan cuma pas lagi bokinan doang. Hindari ngerjain tugas kalo lu sedang dalam kondisi unmood. Karena akan berujung gawean lo gak kelar-kelar, padahal udah berjam-jam nongkrong di depan lepi atau kompi. Apalagi kalo elo ngerjainnya di warnet. Siap-siap tarif billingnya merangkak naik. Atau abang admin warnetnya bosen ngeliat lu yang gak kunjung hengkang dari pertapaan.
  2. Pastikan materi tugas sudah siap sedia. Just in case, biar niat lo yang awalnya buat ngerjain tugas akan berjalan dengan mulus. Kalo materi aja belum siap, lo pasti bingung mau ngapain atau mau ngerjain apa. Ujung-ujungnya waktu buat nugas akan mubazir dan lo hanya mengisinya dengan aktivitas yang tak semestinya. Seperti tidur-tiduran yang berakhir dengan tidur beneran, atau bahkan guling-gulingan sampe Manado.
  3. Bisalaah minta temenin sama makanan atau minuman kesayangan. Belajar sambil ditemenin cemilan kesukaan emang bisa bikin betah guys. Kalian bisa mengikutsertakan secangkir kopi, semangkok indomi, sayur asem, atau seiket bayem dalam sesi nugas kalian. Hal itu bertujuan untuk mengusir kebosanan atau rasa lapar yang mendera secara tiba-tiba. Itung-itung nambah energi juga biar gak lemes pas ngetik atau megang pulpen.
  4. Mendengarkan musik. Cara tersebut dinilai ampuh untuk mengusir keheningan selama kalian lagi belajar. Apalagi kalo belajarnya kelewat malem, kadang cuma kedengeran suara jangkrik dan kucing garong kebelet kawin. Sungguh syahdu. Cobalah. Gausah terisak. Gausah kebawa suasana. Buka playlist musik kalian. Headphones in, ignore the kucing garong. Disarankan jangan nge-play lagu dangdut dulu guys. Nanti kalian malah bergoyang-goyang syahdu, saling senggolan, saling mengumpat, baku hantam, trus suasana berubah jadi anarkis. Pokoknya, jangan.
Okay, that's all wejangan dari gue. Mohon maaf bila ada kekurangan, salah kata, maupun perbuatan. Saya hanya manusia biasa aja yang cuma punya banyak pengalaman ngaco. Sekian dulu yaa berbaginya. Berbagi itu indah. Titik.